Widiatmoko Herbimo

Widiatmoko Herbimo

KEGIATAN IHT

PENGINTEGRASIAN ADMINISTRASI GURU DENGAN SEKOLAH ADIWIYATA

Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang telah menerapkan sistem dengan maksud untuk mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Program Adiwiyata sendiri telah dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan berlanjut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertujuan untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup melalui kegiatan pembinaan, penilaian dan pemberian penghargaan Adiwiyata kepada sekolah. Pedoman pelaksanaan program Adiwiyata diatur dalam Peraturan Menteri LH Nomor 5 Tahun 2013. 

Tujuan sekolah Adiwiyata secara umum  bertujuan untuk mewujudkan  masyarakat sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan dengan:

  1. Menciptakan kondisi yang lebih baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (Guru, Murid, Orang Tua wali murid, dan warga masyarakat) dalam upaya pelestarian lingkungan hidup;
  2. Mendorong dan membantu sekolah agar dapat ikut melaksanakan upaya pemerintah dalam melestarikan lingkungan hidup dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan demi kepentingan generasi yang akan datang;
  3. Warga sekolah turut bertanggung jawab dalam  upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, memasuki awal semester genap tahun pelajaran 2018/2019, yaitu tanggal 2 Januari 2019 SMK Negeri 4 Yogyakarta langsung mengadakan IHT atau In House Training. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyongsong SMK Negeri 4 Yogyakarta menuju sekolah Adiwiyata tingkat Propinsi. Di dalam kegiatan tersebut Bapak Budi Sungkowo, S.Pd. selaku Kepala SMK Negeri 4 Yogyakarta mewajibkan untuk setiap silabus dan RPP masing-masing mata pelajaran  harus terintegrasi dengan Sekolah Adiwiyata. Dengan pengintegrasian administrasi guru terhadap lingkungan, diharapkan dapat mewujudkan  SMK Negeri 4 Yogyakarta menjadi Sekolah Adiwiyata.

MENGGAPAI INDUSTRI KREATIF MELALUI SEKOLAH TECNOPARK

 

Oleh : Widiatmoko Herbimo

 

PENDAHULUAN

Pemerintah menargetkan dapat membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis Tecnopark di berbagai daerah. Hal tersebut menjadi target pemerintah pusat dikarenakan dengan adanya Tecnopark diharapkan Sekolah Kejuruan dapat lebih meningkatkan kerjasama dengan dunia industri dan lebih-lebih dapat menciptakan produk baru yang dapat menghidupkan sekolah tersebut.

Pada saat ini terdapat 22 (dua puluh dua) SMK kepariwisataan yang dibina oleh Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) untuk mengembangkan Teknopark, dan salah satunya adalah SMK Negeri 4 Yogyakarta.  Tujuan utama dengan adanya Tecnopark adalah sebagai pusat unit produksi SMK, sehingga dengan adanya Technopark diharapkan selain dapat mewujudkan program yang disiapkan secara khusus oleh pemerintah, juga untuk memberikan pembelajaran kepada peserta didik bagaimana berwirausaha. Hal ini berbanding lurus dengan pengembangan perekonomian Indonesia secara global melalui industri kreatifnya.

INDUSTRI KREATIF

Sebelum mendalami mengenal Tecnopark, alangkah eloknya terlebih dulu memahami apa itu industri kreatif. Industri kreatif memiliki pengertian kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Menurut para ahli dan pakar ekonomi, industri kreatif di Indonesia sedang berkembang dengan cepat, Oleh karena itu pendapatan negara sebagian disumbang oleh industri kreatif yang terus bertumbuh dan berkembang pada setiap saat.

Industri Kreatif memiliki peranan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia secara global. Revolusi industri keempat yang telah dimulai mengharuskan ekonomi dunia akan semakin bergantung pada sektor industri kreatif. Ketergantungan masyarakat global terhadap teknologi informasi dalam aktivitas sehari-hari telah menyebabkan pertumbuhan eksponensial ke industri kreatif yang mencakup di antaranya industri perangkat lunak komputer, film, musik, publikasi, hiburan, dan fashion. Industri ekonomi kreatif nasional telah mengalami pertumbuhan eksponensial dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data nasional, sektor industri kreatif telah menyerap 15,9 juta tenaga kerja dengan kontribusi 7,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara dengan Rp. 852 triliun. Pada skala global, nilai ekonomi industri kreatif bahkan melampaui industri perminyakan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) pada tahun 2012, industri kreatif menyumbang USD 2,2 triliun atau 230 persen lebih banyak dari nilai ekspor minyak OPEC. 

Di Jerman, kontribusi cabang industri kreatif pada penghasilan nasional (produk domestik bruto) terus meningkat dan kini sudah setingkat dengan penghasilan cabang industri besar seperti konstruksi mesin. Pada tahun 2013, omzet sektor usaha berbasis kreativitas, yang mencakup sekitar 249.000 perusahaan dan 1,5 juta tenaga kerja, mencapai kurang lebih 145 miliar Euro. Oleh karena itu, dengan kekayaan alam, budaya, dan tradisi, negara Indonesia memiliki potensi luas untuk mengembangkan industri kreatif dengan syarat sumber daya manusia Indonesia memiliki kreativitas tinggi, dan salah satu faktornya adalah mengembangkan tecnopark di sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

TECNOPARK SMK NEGERI 4 YOGYAKARTA

Tecnopark merupakan salah satu bentuk wadah untuk menghubungkan institusi pendidikan dengan dunia industri. Definisi dari Technopark atau Sciencepark adalah suatu kawasan terpadu yang menggabungkan dunia industri, pendidikan, pusat riset dan pelatihan, kewirausahaan, perbankan, pemerintah pusat dan daerah dalam satu lokasi yang memungkinkan aliran informasi dan teknologi secara lebih efisien dan cepat.

Stakeholder dari suatu technopark diantaranya adalah pemerintah (biasanya pemerintah daerah), komunitas peneliti (akademis), komunitas bisnis, dan finansial. Stakeholder bekerjasama untuk mengintegrasikan penggunaan dan pemanfaatan bangunan komersial, fasilitas riset, conference center, sampai ke hotel. Technopark mencoba menggabungkan ide, inovasi, dan know-how dari dunia pendidikan dan kemampuan finansial (marketing) dari dunia bisnis, sehingga diharapkan dari penggabungan ini dapat meningkatkan dan mempercepat pengembangan produk serta mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan inovasi ke produk yang dapat dipasarkan, dengan harapan untuk memperoleh economic return yang tinggi. Dengan adanya technopark membuat link yang  permanen antara sekolah dan industri, sehingga terjadi clustering dan critical mass dari pendidik dan perusahaan,  sehingga membuat perusahaan menjadi lebih kuat.

Pada hari rabu tanggal 14 November 2018, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Yogyakarta kedatangan Direktorat Pembinaan SMK untuk memonitoring dan mengevaluasi pengembangan program Technopark yang ada di SMKN 4 Yogyakarta. Program Technopark di SMKN 4 Yogyakarta yang dibuat oleh pemerintah, dipantau langsung oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan yang bekerjasama dengan UNY sudah dimulai sejak bulan Agustus 2018. SMKN 4 Yogyakarta mendapatkan bantuan dari pemerintah yaitu program Technopark untuk mewadahi keterampilan para peserta didik SMKN 4 Yogyakarta.

Tujuan utama kunjungan Direktorat untuk memonitoring dan evaluasi program Technopark sejauh mana berkembang di SMKN 4 Yogyakarta, dan juga untuk melihat kendala-kendala apa saja yang dihadapi SMKN 4 Yogyakarta. Di SMKN 4 Yogyakarta memliki beberapa kendala yang terangkum diantaranya adalah:

  • Mengalokasikan kebutuhan bahan dan alat untuk satu tahun perjalan;
  • Pada saat diperencanaan terkadang tidak sesuai dengan realisasi, karena kebutuhan yang akan dibeli harus sesuai kebutuhan yang diajukan, contohnya data yang diajukan sekolah membutuhkan keran, namun yang mengalami kerusakan adalah lampu (tidak sesuai dengan perencanaan);
  • Tidak dapat memegang uang modal (fresh money);
  • SDM guru dan waktu belajar siswa yang saat ini sudah berkurang.

Seperti yang MATA kutip dari berita pada situs Dikpora, Ibu Patonah, M.Pd. sebagai Ketua Pengelola Technopark SMKN 4 Yogyakarta mengatakan program Technopark dapat melatih para peserta didik secara tidak langsung terjun ke industri, sehingga para peserta didik dapat merasakan bagaimana rasanya ditolak ditempat magang, dan bagaimana rasanya memproduksi barang.

Pemerintah memberikan anggaran kepada SMK yang terpilih dan memenuhi syarat sebagai upaya untuk mengembangkan, meningkatkan, dan memasarkan produk teaching factory SMK, sehingga diharapkan lulusan SMK sesuai dengan standar permintaan dunia industri. Diharapkan ke depan Tecnopark SMK menjadi aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa, khususnya dalam bidang industri kreatif.

Selain itu, berbeda dengan tujuan program Technopark Pemerintah, diharapkan beberapa Technopark yang telah dibentuk dapat dijadikan sebagai obyek wisata edukasi, sehingga dapat memberikan brand  sekaligus wahana wisata edukasi yang baru, dimana unsur selain adanya unsur hiburan, juga mengandung edukasi yang dikemas dalam berbagai konten wahana  hiburan yang selalu berkembang, inovatif, menghibur, aman, ramah lingkungan dan tempat pembelajaran yang interaktif bagi peserta didik sekolah. Hal ini dapat mewujudkan mimpi menggapai industri kreatif baru di bidang Pariwisata.

PENUTUP

Tecnopark merupakan suatu kawasan sekaligus wahana untuk kolaborasi dunia pendidikan dengan dunia usaha sehingga membuat perusahaan menjadi lebih kuat.  Tujuan utama Tecnopark di Sekolah Kejuruan adalah untuk menciptakan dan mendorong lahirnya industri kreatif di masa akan datang. Oleh karena itu, sekolah yang telah memiliki Tecnopark diharapkan mendidik para peserta didiknya untuk selalu kreatif dan berinovasi, sehingga ke depan, Tecnopark Sekolah Kejuruan dapat menjadi barometer industri kreatif di Indonesia. Dan sesuai dengan Permendibud No. 75 Tahun 2016, pihak Komite Sekolah diharapkan juga mendukung penuh program Pemerintah mengenai Tecnopark, sehingga kegiatan Tecnopark di Sekolah Kejuruan dapat berjalan dengan baik. Selain itu, Tecnopark di Sekolah Kejuruan diharapkan berkembang menjadi wisata edukasi yang interaktif, sehingga mewujudkan industri kreatif baru di bidang pariwisata.

PAPERLESS SCHOOL SYSTEM MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA

Oleh : Widiatmoko Herbimo

PENDAHULUAN

Tingginya kebutuhan terhadap kertas berdampak pada ketersediaan kayu dimana dalam industri kertas, kayu diolah menjadi bubur kertas (pulp) dan kemudian diolah lagi menjadi kertas. Para ahli lingkungan berpendapat bahwa rata-rata penggunaan kertas di perkantoran adalah sebanyak 0,5 kg kertas per orang per hari. Dengan jumlah pekerja di DIY sebanyak 3 juta jiwa-anggaplah setengahnya saja atau 1,5 juta jiwa yang bekerja dengan menggunakan kertas, maka kurang lebih sekitar 1 juta kg kertas yang dikonsumsi oleh aktivitas kerja setiap harinya. Jika untuk memproduksi 1 ton kertas membutuhkan 10 batang pohon, maka dalam satu hari ada 10.000 batang pohon yang ditebang demi konsumsi kertas aktivitas perkantoran di DIY saja. Perubahan gaya hidup serta penyesuaian akan perkembangan jaman menyebabkan penggunaan kertas terus meningkat, baik kertas untuk kebutuhan tulis/cetak maupun kebutuhan kertas untuk sanitasi, makanan/minuman dan penunjang gaya hidup lainnya.

Peningkatan kebutuhan kertas tentunya diiringi dengan peningkatan kebutuhan akan bahan baku dan bahan tambahan lainnya. Konsekuensinya adalah terjadi peningkatan limbah dari proses produksi kertas dan peningkatan jumlah kertas bekas. Untuk memenuhi kebutuhan kertas nasional yang besarannya sekitar 5,6 juta ton/tahun, diperlukan bahan baku kayu dalam jumlah sangat besar dan mahal. Kebutuhan ini tidak dapat tercukupi dari Hutan Tanaman Industri (HTI) Indonesia. Oleh karena itu melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Peraturan Menteri LH Nomor 5 Tahun 2013 membuat program Adiwiyata, yang bertujuan mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup melalui kegiatan pembinaan, penilaian, dan pemberian penghargaan.

Dengan adanya sekolah Adiwiyata diharapkan menjadi awal pijakan pembelajaran terhadap lingkungan sehingga dapat mewujudkan tujuan dari negara Go Green. Pada dasarnya Go Green adalah mengajak untuk melakukan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar, efisiensi pengelolaan sampah, efisiensi penggunaan lahan, efisiensi penggunaan listrik, dan efisiensi penggunaan air. Untuk mewujudkan tujuan tersebut salah satunya adalah penggunaan Teknologi Informasi dalam menuju sekolah paperless.

 

 

 

 

SEKOLAH ADIWIYATA

Berdasarkan Peraturan Menteri LH Nomor 5 Tahun 2013, sekolah adiwiyata adalah sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Sekolah Adiwiyata diharapkan melakukan program ini berdasarkan prinsip edukatif, pastisipatif, dan berkelanjutan. Kegiatan utama diarahkan pada terwujudnya kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia. Disamping pengembangan norma-norma dasar yang antara lain adalah kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup maupun sumber daya alam. Prinsip dasar Sekolah Adiwiyata adalah partisipatif dan berkelanjutan, dimana komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung jawab, dimana seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komperensif.

  Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan, maka diperlukan beberapa kebijakan sekolah yang mendukung dilaksanakannya kegiatan-kegiatan pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsip dasar Program Adiwiyata yaitu partisipatif dan berkelanjutan. Pengembangan kebijakan sekolah tersebut antara lain :

  1. Visi dan misi sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.
  2. Kebijakan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup.
  3. Kebijakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (tenaga kependidikan dan non-kependidikan) di bidang pendidikan lingkungan hidup.
  4. Kebijakan sekolah dalam upaya penghematan sumber daya alam.
  5. Kebijakan sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang bersih dan sehat.
  6. Kebijakan sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan yang terkait dengan masalah lingkungan hidup.

 

Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para peserta didik dapat dilakukan melalui kurikulum secara terintegrasi atau monolitik. Pengembangan materi, model pembelajaran dan metode belajar yang bervariasi, dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan sehari-hari. Pengembangan kurikulum tersebut dapat dilakukan antara lain :

  1. Pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran.
  2. Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar.
  3. Pengembangan metode belajar berbasis TIK, lingkungan, dan budaya.
  4. Pengembangan kegiatan kurikuler untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta didik tentang lingkungan hidup.

 

 

TIK UNTUK PAPERLESS

Keberadaan teknologi informasi bagi suatu sekolah merupakan hal yang sangat penting. Dengan penerapan teknologi informasi secara tepat, suatu sekolah dapat memiliki competitive advantage dalam kegiatan pembelajarannya. Dalam tulisannya, Tjumina, mengutip dari majalah SWA, mengemukakan bagaimana cara membangun sistem teknologi informasi (TI) yang ideal, yaitu :

  1. Harus mengetahui visi dan misi sekolah. Sistem teknologi informasi yang dibangun harus sejalan dengan visi dan misi tersebut.
  2. Menentukan sistem teknologi informasi seperti apa yang dibutuhkan. Ini perlu dirumuskan dengan jelas, apakah teknologi informasi itu dibutuhkan secara sophisticated atau sekedar pendukung.
  3. Harus mampu memilih sistem teknologi informasi yang tepat, yang mampu mengakomodasikan semua kebutuhan sekolah. Di sini diperlukan adanya survey terlebih dahulu.
  4. Proyek teknologi informasi bukan sekedar proyek orang IT, tetapi harus menjadi proyek sekolah sehingga perlu melibatkan semua pihak dalam sekolah.

 

Pada penerapannya. teknologi informasi sangat terlihat manfaatnya yaitu dalam membangun infrastruktur untuk mengelola dan distribusi dokumen, berkas, laporan-laporan, yang kesemuanya akan terintegrasi langsung ke komputer. Sebagai contoh, pengiriman laporan melalui email akan berakibat pada pengurangan penggunaan kertas yang tidak perlu. Langkah pengurangan penggunaan kertas untuk aktivitas sekolah sudah teraplikasi dengan baik. Konsep ini dikenal sebagai paperless School. Paperless School adalah lingkungan sekolah di mana penggunaan kertas dihilangkan atau digunakan dengan bijak. "Going paperless" dapat menghemat anggaran, meningkatkan produktivitas, menghemat ruang, membuat dokumentasi elektronik, mempermudah berbagi informasi, dan meminimalkan penggunaan kertas. Adanya perkembangan teknologi informasi turut mendukung meningkatnya penerapan konsep paperless school di beberapa sekolah. Manfaat jika Paperless School System diterapkan, antara lain adalah :

  1. Efisien waktu

Kecepatan distribusi dan kecepatan pencarian menjadi karakteristik penting dari keberadaan Paperless School System. Keuntungan pada aspek waktu, akan terlihat jika individu-individu yang terlibat pada sistem ini terdistribusi dalam wilayah yang luas, dan memiliki mobilitas tinggi.

  1. Manajemen dokumentasi lebih baik

Dengan penataan data yang  rapi, maka semua dokumen dapat terekam dan disimpan dengan  baik. Jika suatu saat dilakukan pelacakan maka akan sangat terasa manfaat dari adanya Paperless School System ini.

  1. Kenyamanan kerja lebih baik

Aspek ini menekankan pada pola komunikasi yang cepat dan akurat yang dapat diwujudkan, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman.

  1. Mendukung terjadinya keputusan yang lebih baik

Pada aspek ini dimungkinkan terjadinya penyajian informasi dan komunikasi yang lengkap, dan dapat dilakukan pelacakan permasalahan berdasarkan dokumen yang tersimpan secara rapi.

  1. Manajemen lebih terkendali

Maksud dari aspek ini yaitu bahwa penerapan Paperless School System dapat dimungkinkan jika aplikasi yang diterapkan menyertakan fasilitas evaluasi dan pemantauan setiap surat keputusan yang diterbitkan yang memerlukan laporan dan evaluasi hasil kerja.

  1. Membaiknya citra organisasi

Dengan semakin baiknya manajemen dan pelayanan yang diakibatkan dengan berbagai penyajian informasi yang akurat dan cepat, maka akan memberikan nilai positif bagi pihak manapun yang berhubungan dengan organisasi tersebut.

 

PENUTUP

Dapat disimpulkan bahwa Paperless School System dapat membantu sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan di Yogyakarta dalam melaksanakan nawacita-nya sebagai Sekolah Adiwiyata. Penerapan Paperless School System seutuhnya di masa depan akan bermanfaat bagi kualitas lingkungan yang lebih baik, juga dapat mempermudah urusan administrasi sekolah sehari-hari. Penerapan Paperless School System dapat kita lakukan mulai dari hal yang sederhana, misalnya mengurangi penggunaan kertas, dengan memaksimalkan penggunakan media pembelajaran berbasis android. Oleh karena itu, diharapkan adanya Paperless School System dapat mewujudkan SMK di Yogyakarta menjadi Sekolah Adiwiyata.

Widiatmoko Herbimo

Guru SMK Negeri 4 Yogyakarta

Contact US

SMK Negeri 4 Yogyakarta

Jalan Sidikan 60 Umbulharjo Yogyakarta

Telp : 0274 - 372238

Fax : 0274 - 372238

e-mail : info@smkn4jogja.sch.id

 

SMKN 4 Jogja

Search